Barbie, Black Barbie dan Pikiran Tentang Kecantikan

Siapa tidak tahu Barbie? Itu dia, si boneka cantik nan rupawan, berkulit putih, langsing, tinggi semampai. Dialah boneka dewasa pujaan anak-anak putri di Amerika, yang sudah mendunia. Bila Anda sok Amerika, Anda juga bisa membelinya di toko-toko boneka terdekat di kota Anda.

Tak hanya itu, saat saya membrowsing di Google tentang boneka Barbie, bahkan ada juga toko yang menyediakan boneka Barbie yang muslimah, berkerudung jilbab dan berbaju khas kaum muslimah masa kini. Yang bersangkutan menyebutnya boneka Barbie muslimah he he

Barbie adalah perlambang tentang kecantikan. Sebuah kecantikan yang telah ditafsiri sepihak oleh Barat sebagai yang putih dan berambut lurus. Mereka yang berkulit hitam dan berambut kriting (seperti saya he he) tidak termasuk mereka yang digolongkan elok.

Pandangan diskriminatif semacam ini telah diturunkan beratus-ratus tahun. Tubuh manusia dilekati dengan tafsir pemikiran yang rasis, yang menempatkan kebencian dan keburukan di satu sisi dan keelokan di sisi lain.

Sadar akan pemikiran rasis seperti ini, baru-baru ini Amerika merilis kembali boneka Black Barbie. Pada 1960an, Mattel, perusahaan mainan anak terbesar memang pernah merilis Barbie berkulit hitam dan sempat berjaya di masanya. Sang Barbie dinamakan sebagai Christie.

Kini Mattel kembali meluncurkan Black Barbie dengan ciri-ciri agak berbeda dari sebelumnya yang dinamakan So In Style (SIS) Dolls. Didandani oleh sang desainer Stacey McBride-Irby, Black Barbie kali ini berambut keriting khas putri-putri blasteran African-American. Dalam boneka Black Barbie ini terdapat tiga nama, yakni Grace, Kara dan Trichelle.

Kalau kita lihat, memang terdapat hal-hal menonjol dari desain sebelumnya, misalnya di karakteristik wajah, bibir, tulang pipi, hidung dan rambut. Konon kiabarnya, kemiripan Barbie baru itu dengan Barbie yang putih dan mencirikan keadaan yang sebenarnya pada penduduk campuran African-American inilah yang membuat anak-anak di sana menyukainya.

Anyway, sebetulnya inti dari semua itu adalah pemikiran kita tentang warna kulit. Sejujurnya, ada di manakah kita?

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.