You Are

 

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/20/1304461%20/ancam.ditelanjangi.yessy.dirampok.di.taksi

 

Salah satu fitur khas bawaan CMS (Content Management System) Joomla adalah adanya modul untuk penggolongan berita terbaru (Latest News) dan berita terpopuler (Popular News). Untuk yang terakhir ini, joomla menggunakan rekaman visitasi atas sebuah artikel. Bila dalam periode tertentu sebuah artikel memiliki kunjungan paling banyak, maka statusnya akan masuk "Berita Terpopuler". Kompas.com adalah portal berita terbesar yang menggunakan Joomla sebagai mesin dasar webnya, dan karenanya di halaman utama kita bisa melihat ada dua Menu di sebelah slide berita bergambar, yakni Berita Terkini dan Terpopuler. Berita terkini berganti setiap saat, tapi menu Terpopuler bisa agak lama, setidaknya dalam hitungan jam atau hari. Nah, artikel kali ini bukan membahas soal itu teknis web itu he he.


***

Anda suntuk? Saya juga sering. Malas dan bosan. Capek dan kadang tak ada semangat. Mau mencari hiburan, ya itu itu melulu.

Belakangan ini saya menemukan hiburan baru, yakni membaca komentar-komentar lucu, menggelikan, kadang juga kritis, konyol, saling menyerang, dari komentar-komentar di berita Terpopuler Portal berita Kompas.com. Anda mungkin tidak menemukannya jika berita itu masih gress (di kolom Berita Terkini).

Sekedar perbandingan, dulu suasana seperti itu sering juga saya temukan di Detik.com. Tapi entahlah beberapa saat terakhir rasanya komentarnya tidak terlalu banyak (IMHO).

OK, kini cobalah sesekali menengok berita Terpopuler Kompas.com. Saya sering tertawa tergelak-gelak sendirian di depan layar monitor membaca komentar-komentar separagraf tapi kritis ini. Memang ada di antara mereka yang serius, cool dan juga kalem. Yang demikian kurang menarik minat saya. Tapi komentar-komentar yang dalam pandangan saya "menggelitik", cukup menyegarkan kesuntukan saya.

Sebagai sebuah portal, saya membayangkan sebuah Indonesia dalam bingkai kecil Kompas, media terbesar di Indonesia. Pengakses beritanya dari berbagai macam kelas, meski umumnya kelas menengah ke atas. Dan dalam satu posisi, saya sering mengambil kesimpulan, demikianlah bahwa warga Indonesia ini begitu cerdas dan kritis dalam kejenakaan dan banyolan (walau tak jarang juga ada kecaman tanpa membanyol).

Bila berita itu menyangkut 'korban' rakyat kecil, 90% komentar-komentar nan lucu dan kritis akan berisi simpati dan solidaritas sekaligus kecaman buat pelaku meluncur deras, siapapun dia. Bila berita yang Terpopuler tadi bersifat 'lucu', komentar-komentar yang datang juga tak akan kalah lucunya.

Saya begitu yakin wartawan yang menulis sebuah berita yang berposisi Terpopuler dengan jumlah komentar ratusan juga akan tersenyum geli membaca Indonesia dalam Komentar.

Dalam beberapa hari amatan saya, saya seolah melihat ada satu komunitas yang terbentuk dan memiliki semacam tanggungjawab untuk beropini terhadap berita-berita menarik. Mereka berpartisipasi aktif dalam merespon pemberitaan dari media sekelas Kompas.com. Walaupun nama atau nickname mereka bermacam-macam dan sering juga lucu, aspek kritis dan kecerdasan itu tetap dapat dilihat. Para komentator berlomba untuk memberikan opininya atas pemberitaan yang muncul. Sebuah sikap aktif dari masyarakat melek politik yang menyenangkan.

Komentar-komentar itu bisa saja mewakili sebuah parodi kritis dari apa yang kita sebut sebagai masyarakat. Bila selama ini dalam banyak kebijakan, negara masih sering meminggirkan rakyat dalam posisi yang sulit, itu artinya negara tidak pernah memahami sampai sejauh mana rakyat ini sudah cerdas. Beragam akses informasi dan pengetahuan yang didapat telah membuat sedikit demi sedikit warga mengalami pencerahan. Dampak atas itu semua adalah keterbukaan. Nah ... kalau begitu, akan absurd sebuah kebijakan bila masih ada kepentingan tersembunyi dan ditutup-tutupi.

Saya mungkin hanya membaca cepat di lead tulisan sebuah berita, lalu ke tengah dan ke bawah. Selanjutnya saya benar-benar terhibur dengan membaca komentar demi komentar warga Indonesia ini, walau sejauh ini saya belum pernah ikutan memberi komentar di kolom itu.

 

Komentar
Tambah Baru
Mas Tyas  - Pemilu     |64.255.180.xxx |02-09-2009 11:56:18
Ya mas, seperti pemilu kemarin, saya lebih tertarik mencermati komentar
masyarakat daripada nyoblosnya..
Salam damai selalu!
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."