| 17 September 2009

Dalam keagungan bulan Ramadlan tersimpan berbagai media untuk mensucikan jiwa. Idul Fitri sebagai rangkaian seremonial tersebut lebih lanjut merupakan pembebasan umat manusia menuju momen merdeka. Refleksi yang bisa dilakukan menyambut hari fitri ini adalah kesediaan kita untuk menengok sejenak ke belakang.Menyadari kesalahan,mengakui dan memperbaikinya.
Dalam situasi dunia dengan labilitas yang cukup tinggi, sebagai masyarakat kita akan mungkin bergerak menuju sebuah kondisi sebagaimana Ulrich Beck pernah menyebutnya sebagai “masyarakat resiko” (risk society). Sebuah ketidakpastian akan kehidupan yang senantiasa memprovokasi kita untuk mengambil tindakan atau keputusan-keputusan penting, padahal sebelumnya kita sama sekali tidak mengetahui hal ikhwal dan informasi tentang tindakan itu. Hampir sama dengan apa yang ditulis Peter L. Bernstein (1996) tentang manusia dan resiko, Against the Gods, The Remarkable Story of Risk.
Seperti dicatat Muhammad (2000) yang menarik sesungguhnya adalah bahwa apa yang dikatakan Beck tersebut bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelumnya, tahun 1921, seorang ahli ekonomi asal Universitas Chicago, Frank Knight, mengatakan,
“Ada pertanyaan besar sejauh mana dunia bisa kita pahami sama sekali …. Hanya dalam kasus-kasus khusus dan tertentu, sesuatu yang bisa dilakukan oleh telaah-telaah matematik.”
Tesis Ulrich Beck tentang Risk Society menunjukkan bahwa kehidupan sosial produk modernitas telah mengintrodusir bahaya-bahaya baru yang setiap saat mesti dihadapi manusia. Sehingga, seperti ditulis Anthony Giddens (1991), hidup dalam ”masyarakat resiko” adalah kesediaan diri untuk menghadapi segala sesuatu sebagai resiko dan menerima resiko sebagai resiko.
Sikap menerima apa yang ada di depan mata, yang oleh Giddens disebut sebagai menerima apa adanya beban orientasi hidup produk modernitas. Kita terpaksa menyadari bahwa sesungguhnya tak satu pun aktivitas manusia yang mengikuti arah yang jelas, orientasi yang jelas. Ini berarti bahwa kehidupan ini terus-menerus dipenuhi oleh aspek-aspek probabilitas yang demikian tinggi.
Inilah yang selanjutnya membuat kita tidak enggan untuk mengatakan bahwa produksi modernitas dan modernitas itu sendiri adalah ilusi. Terakhir hal inilah yang menyebabkan Giddens berpikir keras bagaimana menemukan hidup yang tidak “sosialis” tapi juga tidak “kapitalis”. Seperti juga Beck, Giddens, Vaclav Havel (Transendence in the Postmodern World, 1994) juga mengalami nasib yang sama. Ia menunjukkan bahwa zaman ini telah kehilangan tujuan yang jelas; zaman ini setidaknya telah merepresentasikan situasi yang buram dan muram, situasi yang tak satu pikiran pun sanggup memahaminya.
Seorang Islamolog H.A.R. Gibb dalam Ismail Raji al-Faruqi, (The Cultural Atlas of Islam, dalam The Essence of Islamic Civilization, 1986; 73-91) mengatakan, “Islam is not system of theology but a complete civilization.” Ini adalah jalan terang di antara kebingungan-kebingungan itu. Islam adalah sebuah peradaban yang lengkap, yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, secara individual maupun kolektif. Sebagai peradaban, tentu saja ia menyediakan ruang, waktu dan materi yang cukup lengkap dipakai sebagai pedoman.
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin ...
| Komentar |
|

Pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxx ya mas saif...
menjadi anggota dewan kebanyakan atas...
Ya mas, seperti pemilu kemarin, saya ...
Adem ayem rasa jiwa ini bila membahas...
oke bgt sich fotonya