You Are

 

 

Dalam percakapannya dengan Donaldo Macedo, Freire memberikan nasehat penting (pada kita). Menurutnya, kita mesti memperlakukan hidup ini dengan sikap kritis. Kita harus meletakkan diri kita di tangan kita sendiri. “Jangan mengerjakan sesuatu yang sama pada jam yang sama tanpa bertanya mengapa”. Berusahalah keluar dari rutinitas sehari-hari yang membuat kita terasing dan terus mengulang-ulang. Mari kita pahami hidup ini bukan sebagai pengulangan yang terus-menerus, namun sebagai usaha untuk berkreasi dan terus berkreasi, dan juga sebagai usaha untuk memberontak. Mari kita letakkan keterasingan diri dan bertanya, “Mengapa?” Apakah seharusnya memang demikian?”

Kita mesti menjadi pelaku sejarah. Untuk itu, kita harus mengkritisi sejarah. Sebagai aktor sejarah yang aktif, kita hanya dapat membuat sejarah jika kita secara terus-menerus berpikir kritis. Seperti yang pernah dikatakan Marx dalam The Holy Family, sejarah tidak akan pernah membuat kita, namun kitalah yang membuat sejarah. Sejarah tidak mempunyai kuasa. Sejarah akan membuat kita, ketika kita membuatnya.

Nasehat untuk menutup buku The Politic of Education: Culture, Power and Liberation ini terasa begitu membekas setelah membaca uraian yang panjang lebar Freire. Seperti biasanya, dalam buku yang didahului Henry A. Giroux dalam bab pendahuluan ini, Freire berbicara banyak masalah pendidikan. Buku ini, dengan demikian semakin menambah banyaknya perbendaharaan buku Freire dalam edisi Indonesia.

Seperti buku-bukunya yang lain, misalnya Pedagogy of Opressed, Penguin Books, 1978 (Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1985) dan Cultural Action for Freedom (Gerakan Kebudayaan untuk Kemerdekaan) dalam buku ini Freire juga sangat tegas menyikapi tatanan realitas sosial yang tidak berperikemanusiaan. Ia bahkan melakukannya tidak hanya dengan teori-teori dan pemikiran-pemikiran yang sophisticated, yang justru kadang-kadang tidak penting, lebih jauh ia langsung mengaplikasikan rasa kemanusiaan tersebut dalam bahasa sederhana dan tindakan kongkret, terutama di Chili dan Brazil, negara kelahirannya.

Pendidikan, demikian Freire, haruslah berorientasi pada pembebasan diri dan pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, tidak saja bersifat subyektif, tapi juga obyektif. Sehingga, seperti dalam pengantar, obyektivitas dan subyektivitas adalah dua hal yang tidak saling bertentangan. Dua kesadaran itu merupakan fungsi dialektis dalam diri manusia dalam hubungannya dengan kenyataan yang dihadapi. Lebih tegas lagi Freire mengatakan bahwa sistem pendidikan bukanlah untuk penguasaan dan penjinakan, melainkan untuk proses pemerdekaan.

Untuk tema sentral semacam itu, dalam buku ini, Freire berbicara mulai dari subyek yang berkapasitas sebagai guru, murid, petani, pekerja sosial, sampai pada obyek garapan dalam bentuk reformasi agararia, pemberantasan buta huruf, yang semuanya merupakan aksi kebudayaan untuk kebebasan. Di sisi inilah, seperti yang berulang-ulang disebutkan Freire, tujuan hidup adalah sesuatu yang penting.

Tindakan manusia yang tidak bertujuan, terlepas dari tujuan itu benar atau salah, mitos atau tidak, naif atau kritis, dengan demikian, tidak bisa dikategorikan sebagai perilaku praksis (praxis), meski tindakan itu mempunyai kecenderungan tertentu. Apalagi jika tindakan itu mengabaikan proses dan arahnya. Sehingga hubungan antara kesadaran akan arah dan proses adalah dasar untuk membuat rencana aksi yang menuntut adanya metode, tujuan dan pilihan nilai.

Pada pemberantasan buta huruf misalnya, metode, tujuan dan tentu saja proses, merupakan sesuatu yang utama dalam aksi budaya ini. Mengajar orang agar dapat membaca dan menulis tidak sama dengan permainan sulap. Butuh proses. Yang lebih penting lagi, pemberantasan buta huruf bukan hanya struktur sosial manusia yang buta huruf an sich, tapi juga struktur sosial secara umum. Dalam buku ini, dijelaskan bahwa orang yang buta huruf adalah manusia kosong dan marginal secara struktural.

Di sisi lain, Freire sebenarnya tidak menganggap penting apakah guru menyadari bahwa pendidikan itu membelenggu (domesticating) atau membebaskan (liberating). (h. 175) Sebab intinya adalah terletak pada manipulasi kedudukan guru dan murid, di mana murid diposisikan sebagai obyek pasif dari tindakan guru. Sebagai pihak yang pasif, dengan begitu murid tidak dituntut untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. Murid hanya diisi dengan kata-kata oleh guru. Guru mengajarkan pada murid seolah-olah dirinya terpisah dari kehidupan nyata, seolah-olah bahasa-pemikiran itu muncul tanpa kenyataan. Struktur sosial tidak pernah didiskusikan karena tidak pernah dianggap sebagai masalah yang perlu dipecahkan.

Manipulasi-manipulasi yang demikian ini merupakan salah satu hal yang membuat kesadaran murid terhadap realitas sosial sering tidak terbangun. Sehingga tidak mengherankan jika pendidikan yang diselenggarakan di Dunia Ketiga dengan sendirinya lebih bersifat utopis. Peserta didik hanya dijejali dengan harapan-harapan yang melangit, tanpa ada ekspresi ilmiah di lingkungan yang bisa dilakukan oleh terdidik untuk mempraktekkan hasil dari proses belajar mengajar.
Di sinilah pentingnya sebuah kesadaran dalam upaya pembebasan. Di sini juga berulang-ulang Freire menekankan kata ‘konsientisasi’ (berasal dari bahasa Brazil conscientizaçào) sebagai bentuk kesadaran yang merujuk pada di mana manusia mesti berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan. Ia tidak boleh dipahami sebagai manipulasi kaum idealis. Kesadaran, dengan demikian tidak boleh direduksi hanya sekedar sebagai refleksi terhadap realitas.

Salah satu yang penting dalam konsientisasi adalah mengenal dunia bukan sebagai dunia yang begitu saja diterima, apa adanya. Namun dunia yang dilabeli konsientisasi adalah dunia dinamis dalam proses pembentukan. Konsientisasi menunjukkan, demikian Freire, apa yang tersembunyi bagi kita saat menjejakkan kaki di muka bumi.
Namun demikian, proses konsientisasi yang demikian ini jangan dipahami sebagai bentuk alternatif penyembuhan tanpa perubahan dalam struktur sosial. Atau alternatif untuk untuk menyatukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa disatukan. Konsientisasi disikapi sebagai cara untuk menciptakan dunia yang penuh dengan kedamaian dan harmoni antara kaum penindas dan tertindas melalui sikap yang saling pengertian. Ketika mereka melakukan konsientisasi semacam ini, selanjutnya justru tidak ada lagu penindas dan kaum tertindas, karena keduanya sudah saling mencintai. Padahal, seperti juga ditolak oleh Neibuhr, dengan konsientisasi yang begini, di kemudian hari justru lebih banyak menciptakan persoalan baru ketimbang mencapai tujuan yang memerdekakan.

Bagi Freire, kebebasan tidak bisa dicapai dengan model-model yang fatalistik, atau liberating fatalism, seperti kebanyakan tafsir pada Marx. Ia menolak mentah-mentah orang yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sesuatu yang diberikan sejarah, karenanya, tidak perlu bersusah-susah untuk meraih kebebasan. Kebebasan mesti diraih dengan cara dan tujuan.

Bahwa dalam merubah masyarakat, tugas yang terpenting bukanlah dengan mengambil alih kekuasaan, tapi bagaimana berupaya menciptakannya. Menurut Freire, pendidikan mempunyai peran yang besar untuk menciptakan kekuasaan. Ia mengatakan bahwa guru, misalnya, harus bertanya pada diri sendiri untuk siapa dan kepada siapa mereka bekerja. Guru yang bekerja secara tidak kritis, sekedar untuk memenuhi kewajiban, maka ia berarti belum  mengerti mengenai politik pendidikan. Konsep politik pendidikan yang demikian ini pada akhirnya sempat mengantarkan Freire ke dalam penjara selama empat tahun.

Secara umum, buku ini kaya akan referensi, baik dari Freire sendiri maupun yang lain, yang ditunjukkan dengan bertebarnya catatan kaki di mana-mana. Namun demikian, kesan adanya potongan-potongan tulisan masih sangat terasa. Hanya saja jika kita membaca keseluruhan tema yang hendak diungkap Freire, kita akan tahu beberapa grand thema buku ini. Salah satunya adalah upaya membangkitkan kesadaran, pemberantasan butu huruf (politik), dan tentu saja relasi antara pendidikan dan politik itu sendiri.

(Saiful Arif, September 1999)

Komentar
Tambah Baru
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."