| 16 Oktober 2009

BUNG Karno pernah melukiskan cita-citanya untuk bangsa ini dalam sebuah pidato berapi-api. Untuk menjadi bangsa yang besar, bangsa ini harus digembleng setiap hari oleh keadaan. Up and down, up and down!
Kita bukanlah Negeri Utarakuru. Sebuah negeri yang digambarkan dalam kitab Ramayana sebagai negeri yang penuh dengan ketenangan, tidak ada gejolak, tidak ada masalah, tidak ada bencana. Tidak ada panas yang terlalu, dingin yang terlalu, pahit yang terlalu, manis yang terlalu, gelap yang terlalu, terang yang terlalu. Segalanya serba tenang, ora ono panas ora ono adem, adem tenterem kadyo siniram, banyu ayu suwindo lawase.
Dalam kitab Ramayana itu juga sudah dinyatakan, negeri seperti ini tidak akan menjadi negeri yang besar. Sebab tidak ada up and down, tidak ada perjuangan.
Digembleng oleh Keadaan
Berbagai bencana berturut-turut yang menimpa negeri ini mengingatkan kembali pada pidato Bung Karno di atas. Semua persoalan yang menimpa anak negeri ini adalah ujian atas kedigdayaan kita sebagai sebuah bangsa.
Pidato itu harus diingat kembali untuk menyemangati kita atas berbagai keadaan yang menimpa. Itu akan memperkuat semangat kita untuk bangkit setelah menghadapi Tsunami di Aceh dan dampaknya, gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, letusan Gunung Merapi, kerusuhan politik pilkada, lalu banjir lumpur di Porong Sidoarjo sampai saat puluhan ribu penduduk Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur mengalami kelaparan dan berbagai masalah kebangsaan lainnya. Terakhir adalah gempa di berbagai daerah, dan yang cukup parah di kawasan Sumatera Barat (Padang) yang menelan korban hingga ribuan jiwa. Itu semua adalah fakta-fakta yang akan menggembleng kita sebagai bangsa.
Indonesia tidaklah dicita-citakan sebagaimana bangsa Utarakuru. Tanya Soekarno, ”Apakah engkau ingin menjadi bangsa yang demikian (seperti Utarakuru, pen) saudara-saudara? Tidak!! Kita tidak ingin menjadi suatu bangsa yang demikian. Kita ingin menjadi suatu bangsa yang seperti ini setiap hari: Digembleng oleh keadaan! Digembleng...hampir hancur lebur bangun kembali, digembleng ... hampir hancur lebur bangun kembali!”
Semua bangsa besar di dunia ini pasti melewati masa-masa sulit sebagai sebuah bangsa. Tetapi optimisme untuk keluar dari berbagai ujian itulah yang akan meluluskan sebuah bangsa akan menjadi digdaya atau tidak. Optimisme harus disertai dengan kemauan untuk belajar dari masa lalu.
Tuhan menggembleng bangsa ini melalui keadaaan yang serba sulit. Jepang telah membuktikan bahwa kehancuran di era Perang Dunia II adalah alasan terbaik untuk bangkit. Dan berbagai negara besar lainnya tidak lahir karena berdiam diri dan menyerah pada keadaan.
Membiarkan Kehancuran?
Tetapi semua refleksi ini akan kecil sekali gunanya jika para elit justru sering mencederai semangat dan solidaritas untuk bangkit. Bahkan tidak jarang menjadi halangan dalam penanganan berbagai bencana itu.
Manajemen penanganan bencana yang tidak akurat, korupsi dan bantuan tidak tepat sasaran adalah cermin bahwa seolah-olah kita tidak ingin bangkit dari kehancuran. Seolah-olah kita sedang membiarkan kehancuran di depan mata.
Bangsa ini bisa lulus atau gagal. Kegagalan mengatasi keadaan teramat sering ditunjukkan oleh para ’pemilik negara’ ini dan menimbulkan apatisme para korban bencana. Banjir lumpur di Sidoarjo justru lebih banyak diwarnai dengan pertikaian dan saling lempar tanggungjawab. Rasa kebersamaan untuk membantu korban lenyap karena ditelan kepentingan-kepentingan egoisme dan sektoral. Setelah bencana datang, tidak jarang para korban lalu mengalami bencana kedua yang ditimbulkan negara atas nama elitnya sendiri.
Betul bahwa kita membutuhkan sosok kepemimpinan yang kuat, bahkan super kuat. Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mau belajar dari masalah, belajar dari sejarah. Kepemimpinan yang kuat akan tanggap darurat dan melihat masalah kelaparan, misalnya, sebagai aib yang mencoreng harga diri bangsa. Mereka lapar di tengah negara yang gemah ripa loh jinawi dengan para elit yang berperadaban Timur yang disangka lebih berkemanusiaan.
Gemblengan demi gemblengan tidak akan berhenti. Ini semua untuk menguji kekuatan bangsa ini. Jika dalam skalanya yang kecil bangsa ini sudah tidak mampu, lalu dengan alasan apa kita bisa disebut sebagai bangsa yang besar dan kuat? Sejak kapan kita menerima stigma tanpa penolakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kuat?
Para elit harus berkaca diri, mempertipis pertentangan dan bangkit untuk menghadapi semua masalah dengan kejujuran, keberanian dan ketulusan. Sebagai sebuah tubuh bernama Indonesia, rasa sakit kita di ujung kuku akan pasti bisa dirasakan di bagian tubuh lainnya. Lalu menjadi pertanyaan, apakah para elit ini sudah mati rasa menakala berbagai kebijakan justru hanya untuk memperkeruh keadaan.
Bangsa ini sudah di hampir sempurna kerusakannya, begitu kata Pak Syafii Ma’arif dan Romo Magnis suatu ketika. Kita sudah berada di ambang kehancuran jika para pengelola bangsa ini tidak segera menyadari pentingnya visi kebangsaan untuk membangun bangsa yang kuat.
Bencana alam yang datang, bukanlah alasan bagi para elit untuk menyerah bahkan malah membuat masalah, tetapi menyadari bahwa semua ini adalah upaya untuk menunjukkan kebesaran dan kekuatan bangsa ini.
Mari kita ingat kembali ucapan Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang setiap hari digembleng oleh keadaan, hampir hancur lebur bangun kembali!
| Komentar |
|

Pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxx ya mas saif...
menjadi anggota dewan kebanyakan atas...
Ya mas, seperti pemilu kemarin, saya ...
Adem ayem rasa jiwa ini bila membahas...
oke bgt sich fotonya