You Are

DALAM sebuah demonstrasi petani di Jember akibat kelangkaan dan mahalnya pupuk, petani mengancam akan menghentikan kegiatan bercocok tanam jika pemerintah terus abai terhadap nasibnya. Dan pasti, kita tidak akan bisa membayangkan sebuah keadaan yang terjadi jika petani mogok bertani. Nasib petani dari masa lalu hingga masa kini tidak pernah menyenangkan. Hampir tidak pernah mencatat zaman keemasan. Mereka dirundung masalah demi masalah yang seringkali diakibatkan faktor eksternal, suatu kekuatan di luar diri mereka.


Dalam aspek sosiologis sering ditemukan kenyataan bahwa menjadi petani bukanlah sebuah pilihan sukarela. Dalam kenyataan sering ditemukan, bahwa kegiatan bertani yang dilakukan oleh kebanyakan petani bukanlah untuk meraih untung sebesar-besarnya, melainkan sebagai strategi untuk bertahan hidup. Hal ini pulalah yang menjadi pokok kajian sekaligus menarik perhatian James C Scott, sarjana ilmu sosial Amerika Serikat, dalam bukunya, The Moral Economy of The Peasant (Moral Ekonomi Petani, LP3ES, 1981). Dan tak mengherankan dalam salah satu kalimatnya, Scott menyatakan nasib petani tak ubahnya seperti kuli.

Tidak jarang petani menjalankan kegiatannya dalam lingkaran kerugian demi kerugian. Sudah tahu bahwa investasi yang akan dilakukan untuk 3-4 bulan ke depan itu pasti merugi, mereka tetap menjalankan kegiatan bertaninya dengan giat. Tentu saja dalam pandangan ekonomi, hal ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah investasi dilakukan untuk sebuah kerugian.

Tapi itulah petani. Dalam konteks sosiologis, kenyataan tersebut bisa dijelaskan dalam istilah ”agro-kompleks”. Walaupun secara detail dihitung bahwa apa yang dilakukan akan merugi (jika dibandingkan dengan kerja kerasnya selama masa bercocok tanam), mereka tetap menjalankan profesinya dengan setia. Mereka di/terpaksa untuk bertahan di tengah gempuran kiri kanan terutama yang diakibatkan oleh kebijakan pemerintah.

Dalam ”agro-kompleks” digambarkan dan dianalisis sebab-sebab mengapa petani tetap bertahan dalam menjalankan produksi pertaniannya, meskipun dalam keadaan merugi. Juga dijelaskan sikap petani secara mendalam atas resistensinya untuk bertani di masa-masa sulit.

Kelangkaan Pupuk

Saat ini memang betul-betul ujian berat bagi petani, khususnya di Jawa Timur. Kelangkaan dan terutama mahalnya pupuk membuat mereka membeli tidak hanya dengan uang, melainkan juga dengan KTP (Kompas, 7/4). Kelangkaan pupuk harus disadari bukan hanya sekedar berita di media massa, namun betul-betul realitas. Di Jember, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Malang dll petani merasa kelimpungan dan bingung bagaimana mengatasi masalah. Tanam mereka terancam gagal panen.

Yang mengherankan, kelangkaan pupuk hampir terjadi di setiap kali memasuki musim tanam. Dan uniknya harga gabah akan anjlok juga terjadi setiap tahun ketika memasuki musim panen. Masalah klasik ini sampai kini tidak pernah bisa diatasi pemerintah. Yang ironis (semoga tidak terjadi di sini), ada yang menengarahi di setiap masa tanam, kelangkaan pupuk terjadi karena --di samping distribusi yang tidak memadai dan permainan pihak tertentu-- pupuk bersubsidi diselundupkan ke negara lain, Malaysia dan Filipina. Hal ini terjadi karena harga internasional memang lebih baik dari harga dalam negeri. Harga internasional sekitar US$ 180/ton sedangkan di dalam negeri US$ 120/ton.

Padahal jelas bagi perusahaan produsen pupuk yang melanggar ketentuan pengadaan dan dan penyaluran pupuk bersubsidi bagi sektor pertanian, ada sanksi hukum tindak subversi ekonomi dan penundaan pengucuran dana subsidi dari pemerintah apabila mereka benar-benar terbukti lalai dalam menjalankan kewajibannya memasok pupuk bersubsidi di wilayah kerja yang menjadi tanggung jawabnya.

Pupuk adalah salah satu komoditi yang memiliki peranan strategis dalam mendukung sektor pertanian dan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Itu tidak bisa dimungkiri. Atas hal itu pemerintah tetap berkewajiban mengalokasikan subsidi pupuk bagi petani yang diberikan melalui subsidi harga gas kepada industri pupuk.

Harga pupuk berdasar SK Menteri Pertanian No. 505/KPTS/SR/130/12/2005 tentang kebutuhan dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi di sektor pertanian, untuk Urea Rp. 1.050/kg, SP36 Rp. 1.400/kg, ZA Rp. 950/kg, dan NPK Phonzka Rp1.600/kg. Tapi, di Kabupaten Malang misalnya, harga semakin mahal di atas harga eceran tertinggi (HET). Harga pupuk urea dijual Rp. 140 ribu per kwintal atau Rp. 1400/kilogram (kg). Padahal HET pupuk urea hanya Rp. 105 ribu per kwintal atau Rp1.050/kg (Media Indonesia, 27/3).

Pemerintah yang Tanggap


Kondisi-kondisi demikianlah yang membuat petani makin terpuruk. Cukup mengkhawatirkan atas ancaman mogok bertani kalau pemerintah tidak cepat turun tangan mencari pemecahannya. Saat ini merupakan saat tepat untuk membuktikan keberpihakan pemerintah kepada petani. Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Sudah tidak bisa diteruskan lagi adanya kenyataan pemerintah yang mengabaikan perlindungan kepada petani. Petani adalah tulang punggung bangsa ini. Tanpanya, tak ada bangsa ini.

Janganlah memaksa petani mencari jalannya sendiri. Saya kira kita tidak menginginkan terjadinya pemberontakan petani sebagai gerakan protes seperti yang pernah terjadi dalam gerakan chiliastic revolusioner di Eropa abad XI, atau pemberontakan kaum anarkhis Spanyol abad XIX atau juga pemberontakan Taiping di Tiongkok abad XIX.

Harus pula kita pelajari akan lahirnya ‘tokoh-tokoh’ bandit pro petani seperti Robin Hood di Inggris, Diego Corrientes di Andalusia, Janosik di Polandia dan Slovakia, Pancho Villa di Mexico atau Stenka Razin di Rusia adalah akibat nyata kegagalan pemerintah melindungi petani.

Memang begitu banyak persoalan yang terkait dengan petani. Soal pupuk misalnya, mulai dari jaringan distribusi, manajemen distribusi dan pabrik pupuk dst seharusnya mendapatkan evaluasi. Penanganan pengadaan pupuk dan penyalurannya harus tuntas dan berpihak kepada petani. Dan pemerintah, saya kira, mampu melakukan itu.

SAIFUL ARIF, pengelola saifularif.com

===================================================

Untuk menyambung tulisan di atas, di bawah ini saya ingin mengutip sebuah sumber di Forum Kompas

Terdesak

1524

Terdesak. Barangtentu, itulah yang dirasakan petani-petani di tuhlingen, Jerman ketika mereka memutuskan memberontak. Meski pertumbuhan konomi tinggi, ternyata tidak ada perubahan yang lebih baik yang mereka asakan. Pajak yang mahal tetap harus dibayar dan kerja paksa pun tetap harus dijalani. Mereka inginkan hidup yang lebih baik. Mereka inginkan ebebasan untuk memancing dan berburu. Mereka inginkan kehidupan yang layak sebagai petani.

Maka, wilayah Thüringen pun berdarah. Thomas Münzer berhasil memimpin para petani menggulingkan kekuasaan feodal. Tahun itu, segala sesuatu diatur dan dinikmati bersama oleh kaum tani. Kebebasan yang hanya ada untuk satu tahun, karena pada akhirnya Münzer harus mati dan perjuangan kaum tani diredam
kembali. Bangsawan tak rela dikalahkan.

Beberapa ratus tahun sebelumnya.

1215

Terdesak. Barangtentu, itupula yang membuat Raja John dari Inggris menyetujui Magna Carta, sebuah piagam yang membatasi kekuasaan raja dan mulai mengakui hak individu. Para bangsawannya ketika itu mulai melakukan pemberontakan. Mereka tak rela membayar pajak yang sedemikian besar untuk kepentingan pribadi sang raja. Maka bangsawan-bangsawan yang terdesak miskin ini, mulai mangkir. Menjadi tidak patuh. Memaksa John tawar menawar tentang sebuah dokumen. Skak mat!

1941

Terdesak

Itu jugalah yang membuat Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, segera setelah Jepang meledakkan Pearl Harbour, mengunjungi Presiden Franklin D. Roosevelt di Washington DC. Didesak akan kekhawatiran tentang kehancuran dunia, akibat impian Jerman, Jepang dan Italy untuk menguasai dunia, maka pada Januari 1942, 26 negara yang menyatakan diri sebagai United Nations bersepakat untuk mengerahkan seluruh energi mereka mengalahkan musuh bersama.

Terdesak adalah sebuah kata yang sangat erat dengan masa depan.

Münzer dan kawan-kawannya bisa saja tidak memberontak jika mereka tidak peduli dengan masa depan yang terus menerus harus membayar pajak dan bekerja paksa.

John dari Inggris tentunya tidak perlu menandatangani Magna Charta, jika ia tidak pusing harus kehilangan kekuasaannya.

Inggris, Amerika dan 24 negara-negara itu pun semestinya santai-santai saja dengan ide Hitler menguasai dunia jika mereka tidak berkeberatan anak-anak di Etopia, Venezuela, Filipin atau anak-anak ditempat lain mengangkat tangan hormat pada Sang Fuehrer sambil berteriak teriak, “Hail Hitler. Hail Hitler!”

Pikiran akan masa depan, itulah yang mendesak dan mendorong serta memaksa seseorang, sekumpulan komunitas, sebuah bangsa, seluruh umat manusia berbuat sesuatu.

Maka hal yang sama juga yang telah membawa Si Antonio dan Nikola, Si Juleha dan Asep, Tuan Mboko dan Nona Tambo, Elena dan David serta kawan-kawan yang lain berkumpul malam itu. Terdesak dan khawatir akan masa depan.

2008. Harga-harga pangan semakin mahal, namun petani-petani di desa malah kelaparan. Sungguh aneh jika 80% dari 850 juta orang kelaparan adalah petani, penggembala, nelayan dan masyarakat adat.

2008. Harga-harga pangan semakin mahal tetapi tanah-tanah malah diratakan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit untuk mengisi antrian tangki bahan akar mobil-mobil mewah di Eropa dan Amerika. Ajaib! Jumlah jagung yang ipakai untuk menghasilkan biofuel yang mengisi satu tangki SUV, bisa memberi makan seorang dewasa tiap hari selama satu tahun.

2008. Harga-harga pangan semakin mahal tetapi hanya ada segelitir perusahaan yang memonopoli perdagangan pangan dunia. Sebut saja: nestle, nabisco dan kellog. Orang-orang berteriak, liberalisasi perdagangan produk pertanian! Tetapi sebenarnya hanya memberikan jalan kepada segelitir perusahaan-perusahaan ini untuk membuka anak-anak perusahaan di negara A, di negara B tanpa peduli dengan kehidupan produsen pangan, tanpa pernah mempertimbangkan kesehatan masyarakat yang hanya mampu membeli makanan murah yang diproduksi dari bahan-bahan yang telah diubah genetikanya.

2008

Harga-harga pangan semakin mahal tetapi petani yang mati kelaparan di desa-desa tidak diberikan tanah untuk bercocok tanam. Padahal sudah berbusa-busa para ahli di FAO sana menerangkan betapa pertanian kecil lebih mampu menghasilkan pangan ketimbang pertanian-pertanian yang berteknologi
tinggi.

2008

Harga-harga pangan semakin mahal akibat gagal panen yang disebabkan pemanasan global tetapi jutaan hektar lahan diberikan kepada perkebunan-perkebunan yang melepaskan banyak sekali gas rumah kaca di udara dari pupuk-pupuk yang mereka pakai.

2008

Yang miskin di kota mati dalam keadaan hamil 7 bulan. Yang miskin di desa ngantri untuk bunuh diri jika panen berikutnya gagal.

2008. Terdesak! Terdesak!

Dalam keadaan terdesak, maka seseorang, sekumpulan komunitas, sebuah bangsa, seluruh umat manusia bergerak untuk berbuat sesuatu.

Maka malam itu, Antonio, Nikola, Juleha, Asep, Mboko, Tambo, Elena dan David serta kawan-kawan yang lain berteriak, ”Apa hak kami petani kecil di tengah kekuatan modal korporat dan para orang kaya?”

Catatan setelah mengunjungi International Convention on Peasant’s Rights yang diadakan oleh La Via Campesina, 21-24 Juni 2008

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*Sumber gambar: http://web.papua.go.id/img/content/Image/petani.jpg

Komentar
Tambah Baru
ericha  - kagum.............,   |125.164.212.xxx |25-08-2009 00:12:26
oke bgt sich fotonya
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."