You Are

PAULO Freire lahir pada 19 September 1921 di Recife, kota pelabuhan di timur laut Brazil. Dia berasal dari keluarga kelas menengah, tapi orang tuanya mengalami kesulitan finansial pada masa depresi berat. Situasi seperti itulah, salah satunya, yang membuat Freire, menyadari arti lapar bagi anak sekolah dasar. Pada saat yang sama, tentu ia adalah orang yang sangat peduli pada masalah-masalah kemiskinan, orang miskin dan perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikan.

Untuk mengenalnya lebih jauh, Collins memulainya dengan pertanyaan bagaimana seseorang bisa menjelaskan sikap optimisme Paulo Freire. Seperti dijelaskan di awal buku ini, bahwa sikap-sikap yang radikal, utopis, dapat diraih, Kristen kritis, yang menancap pada diri Freire adalah sikap yang menjelaskan optimismenya tentang manusia.

Namun mesti juga dicatat bahwa optimisme yang ia maksud bukan merupakan optimisme yang berangkat dari suatu idealisme historis. Dari pelbagai tulisannya dapat diketahui bahwa apa yang diajarkan Freire adalah agar manusia mampu mendidik dan memerdekakan dirinya sendiri, berjuang untuk bebas dengan cara menjadi historis dan tidak dengan cara yang lain. Ia yakin betul bahwa suatu saat nanti, semua manusia, laki-laki maupun perempuan, akan dapat menjadi manusiawi dan merdeka sebagaimana dikehendaki oleh Penciptanya.

Meski dalam situasi pembuangan, pemenjaraan dan kemiskinan, Freire tetap saja bersikap optimis, dan memandang bahwa kehidupan adalah sebuah optimisme. Freire adalah salah satu dari sekian banyak pemimpin umat yang sangat kuat dalam upayanya untuk memperjuangkan pengentasan kemiskinan dan penindasan atas harkat kemanusiaan.

Seperti yang ditunjukkan Collins, sebenarnya hal yang luar biasa dari Frere bukan semata-mata kontroversi yang muncul dalam debat-debat tentang metode pendidikannya yang revolusioner, namun justru pada perkembangan ide-ide kependidikannya dari tiap tahap kehidupan dan tiap pekerjaan yang dilakukannya. Senada dengan Hegel dan Marx, baginya refleksi dan aksi tidak dapat dijalankan secara terpisah.

Berasal dari situasi yang penuh dengan penindasan, maka aksi yang ia lakukan adalah aksi bagaimana memperjuangkan diri dan rakyatnya agar tidak tertindas lagi. Kritik-kritiknya pada pendidikan tradisional melahirkan sebuah gagasan penting, yakni bagaimana agar pendidikan lebih bersifat humanistik (manusiawi). Sebab hanya dengan pendidikan yang mementingkan pembebasan dan pemerdekaan orang per orang-lah, maka penindasan dapat dihilangkan. Sementara, bagi Freire, pendidikan tradisional, di samping tidak menampakkan unsur pemerdekaan itu, ia juga jauh dari humanisme.

Brazil mengalami pergolakan yang dahsyat di awal tahun 1960-an. Pelbagai gerakan sosial tumbuh bersamaan dengan hadirnya golongan sosialis, komunis, mahasiswa, buruh, golongan populis dan militan Kristen (h.9). Situasi yang terjadi bersamaan dengan pergolakan-pergolakan itu adalah menjamurnya orang buta aksara di masyarakat pedesaan yang miskin. Inilah salah satu kejadian yang menarik minat Freire untuk melakukan pemberantasan dan ‘menghidupkan’ mereka kembali agar suara-suara mereka mampu mengakses isu-isu yang lebih besar di Brazil.

Freire memperkenalkan perlunya pendidikan bagi kaum tertindas. Bagi Freire, pendidikan adalah jalan untuk menuju pembebasan yang permanen (h.39). Pendidikan model ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah masa di mana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka dan melalui praksis merubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun di atas tahap yang pertama dan merupakan proses tindakan kultural yang membebaskan.

Freire percaya bahwa pendidikan yang memanusiakan adalah pendidikan yang dialogis. Suatu investigasi bersama-sama yang terus-menerus yang dilakukan oleh para murid yang mengakui bahwa ‘mengetahui’ adalah proses yang tak pernah berakhir. ‘Mengetahui’ adalah sebuah proses, bukan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Proses ini juga mesti didukung oleh para guru yang menyadari bahwa sebenarnya dia adalah murid juga. Dengan demikian, dialektika terus berlangsung. Pendidikan yang menafikan dialog ditunjukkan dengan adanya penaklukan, pembagian dan pengaturan rakyat, manipulasi oleh kaum elit dan invasi kultural yang hanya mendidik orang menjadi objek perilaku maupun objek pikir.

Hanya saja, tidak seperti Marxisme yang tampak amat-sangat dogmatis, Freire sungguh percaya bahwa penghormatan kepada rakyat dan dialog terbuka dapat menuntun ke sebuah dunia lain yang lebih manusiawi dan lebih adil. Dari sini kita bisa melihat betapa penting dan kuatnya Freire menekankan ‘dialog’ dalam banyak idenya. Tanpa dialog, sesuatu akan bergerak menjadi otoriterianisme yang tentu saja tidak manusiawi dan menindas.

Kritik keras Freire pada pendidikan ‘gaya bank’ lebih banyak disebabkan oleh fragmentasi yang dikandungnya (h.146).Transfer informasi an sich berarti sama saja dengan menegasikan dialog. Padahal sebagai makhluk sosial, yang namanya pemikiran subjekl tertentu tentu saja harus diuji, dirangsang dan dihadapkan pada pemikiran dari subjek lain. Transfer informasi yang ‘semena-mena’ berarti tidak memperdulikan komunikasi atau intersubjektivitas atau cara manusia mengetahui sebagai co-intensionalitas.

Inilah yang membuat Freire mengatakan bahwa titik tolak dari pendidikan yang memanusiakan pastilah pemecahan kontradiksi antara guru-murid. Bagi Freire, pendekatan selain ‘komunikasi dan dialog’ adalah pendekatan yang mengingkari aspek kreatif. Bahkan hal itu merupakan tindakan yang melanggengkan penindasan.

Untuk menghindari hal itu, maka sifat kritis kesadaran yang reflektif harus diarahkan pada dekonstruksi posisi guru-murid yang selama ini ada, yakni guru adalah subjek yang tahu dan murid adalah subjek yang harus tahu. Guru-murid harus berusaha untuk mengetahui secara bersama-sama dengan tujuan untuk mentransformasikan dunia.

Ini juga merupakan salah satu hal yang membedakan antara konsepsi Freire dengan teman sejawatnya, Ivan Illich maupun Everett Reimer, yang terkenal sebagai ‘pemikir anti sekolah’. Freire dengan jelas dan tegas, sangat tampak bahwa pemikiran-pemikirannya lebih berorientasi pada perubahan sosial (h.134). Baginya, pendidikan adalah alat yang paling penting untuk mencapai transformasi-transformasi sosial.

Buku yang ditulis Denis Collins ini, seorang direktur pendidikan di California Province of the Lesuit merupakan hasil penelitian di Ohio State University Washington D.C., dan Mexico City. Meski kecil namun nampaknya sanggup menghadirkan kehidupan, karya dan gagasan-gagasan Paulo Freire. Juga, meski hanya disistematisasikan hanya menjadi dua bagian, namun per bagian yang ada tampak kuat menonjolkan kata-kata: “dialog, pembebasan, anti penindasan, dan pelbagai idiom humanisme yang lain”.

Teori-teori pendidikannya tersusun secara sistematis, sehingga tepat bagi pembaca pemula yang ingin berusaha mengenal Freire. Buku ini merupakan ‘jalan pintas’ untuk memahami gagasan-gagasan Freire. Termasuk bagaimana ia menekankan pada upaya meningkatkan kesadaran-konsientisasi (conscietization) kaum tertindas.

Setelah kita memahami bahwa pendidikan mesti humanistik, maka pada saat yang sama kita akan bisa menyimpulkan, seperti apa yang pernah dialami Freire dalam sejarah hidupnya, bahwa pertama-tama untuk menghindari penindasan adalah berperang melawan ‘kelaparan dalam pendidikan’.

Seperti lazimnya buku-buku terjemahan yang lain, buku ini sepintas sepertinya mengalami nasib yang sama, yakni sulit dipahami karena ketidakmampuan pembaca untuk berempati langsung dengan realitas yang diasumsikan Freire, di Amerika Latin. Namun kesulitan ini akan segera teratasi jika kita tidak membacanya secara sepotong-sepotong. Harus utuh.Sehingga di akhir membaca, kita sudah merasakan kehendak Freire yang jujur untuk memerdekakan manusia-manusia yang tertindas.

SAIFUL ARIF, Malang, 07 November 1999

Referensi

Judul Buku : PAULO FREIRE, Kehidupan, Karya & Pemikirannya
Penulis: Denis Collins
Penerjemah : Henry Heyneardhi dan Anastasia P
Penyunting : Kamdani
Tahun : Oktober, 1999
Tebal : vii + 179 halaman
Penerbit : Pustaka Pelajar & Komunitas Apiru Yogyakarta

Komentar
Tambah Baru
Tanah Abang Boy  - Wonderful history of his story   |125.160.148.xxx |21-04-2009 07:36:44
That story so inspiring us to learn more and more. Here we are, atmosphere of
situation open chance to apply andragogy method
mamag  - kenalan cak mamag     |125.160.184.xxx |13-04-2009 04:33:50
ayo bangun terus bos
Blogger Senayan  - hoi uapike cak     |125.160.184.xxx |05-04-2009 20:51:02
mantab pols
bikin lebih familiar n segar
king  - Keren abiz     |125.167.44.xxx |05-04-2009 20:40:32
Siiiiip lek, seperti blognya JFK
Song  - OK     |127.0.0.xxx |06-04-2009 00:04:06
ok test
asdasd  - TV     |127.0.0.xxx |05-04-2009 23:27:06
ets te tsess
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."