| 20 Agustus 2009

Ketika masih berumur balita, menurut kisah Ibu saya pernah digendong panggul oleh bapak saya untuk takziyah semasa Yai Utsman (KH Utsman Al Ishaqi) mangkat. Perjalanan menggendong saya konon juga memakan jarak yang jauh. Tentu saya tidak bisa mengingat suasana itu. Andai tak dikisahkan oleh Ibu, juga tidak mungkin saya mengetahuinya. Tidak, saya tidak sedang mengisahkan ulang peristiwa itu.
Malam itu, masih menurut penuturan Ibu, di kampung halaman saya sedang diadakan acara istighotsah khas naqshabandi seperti biasanya. Acara berhenti pada jam 12 malam, dan jamaah pun pulang ke rumah masing-masing. Sekitar pukul 03.00 dini hari, SMS sudah bertubi-tubi datang ke ponsel saya, dari mana-mana yang mengabarkan Romo Kiai Asrori sudah kapundhut. Innalillahi wainna ilaihi roji'un.
Beliau berpulang setelah memberikan segala yang terbaik untuk ummat.
***
Bila sedang di kawasan Gresik, Lamongan, Surabaya, ada satu yang saya rindukan, yakni mendengarkan ceramahnya yang penuh semangat untuk mengajarkan manusia hidup ikhlas. Radio Elbayu Gresik bahkan memiliki semacam mata acara khusus pengajian ini. Juga beberapa radio lain di Surabaya. Pagi selepas subuh, sesudah isya dan menjelang orang-orang tidur, ceramah beliau begitu mendinginkan, sejuk, berusaha mengembalikan manusia kepada rel kesejatian hidup. Dengan berbekal radio butut, beberapa batang rokok dan secangkir kopi, sambil leyeh-leyeh, semua ceramahnya berhasil membawa saya lepas dari kerumunan hidup modern sehari-hari yang tak jarang menyiksa dan membosankan. Teladan dan ajaran hidup sederhananya ... begitu dalam dan mengoyak-ngoyak batin, nafsu dan keserakahan saya selama ini atas hidup.
Bila sudah demikian, hanya tinggal satu saja pertanyaan tersisa bagi saya, what's more ... titik.
Al Fatihah ....
----------------------------------------------------------
==== Sumber-sumber lain tentang Beliau ====
Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.
Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara, majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya. Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.
Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya. Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi, “biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun.
Saat ini, dalam usianya yang menginjak senja, kondisi fisik Kiai Asrori melemah seiring sakit yang ia derita namun semangat perjuangannya tak kendur. Sakit tidak menjadi halangan baginya untuk menempuh perjalanan-perjalanan jauh demi menyapa kaumnya. Saya menyaksikan semangat pengabaian diri dalam sosok rendah hati itu. Dalam suatu kesempatan Ramadhan kemarin, Kiai Asrori datang ke acara Al-Khidmah di Malang di atas kursi roda. Ia mesti dipapah beberapa orang untuk sampai ke podium. Pemandangan yang memilukan. Setelah memimpin zikir ia memberikan tausiyah yang lebih terasa seperti wasiat. Ia berpesan dua hal, “sing wani ngalah karo wong, lan sing wani ngapik’i wong (agar berani mengalah kepada orang lain serta berani berbuat baik kepada orang lain).” Pesan yang singkat dan sederhana. Namun justru kesederhanaan semacam ini selalu menggetarkan karena makin jarang kita temukan dalam kehidupan kita dewasa ini.
Saya tiba-tiba merasa takut kehilangan.
Sumber: http://faqirullah.multiply.com/journal/item/117
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
====== Anak Macan Akhirnya Jadi Macan Juga ======
Meninggalnya KH Asrori Al Ishaqi (58), menjadi berita duka bagi keluarga besar Pondok Al Fithrah dan jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Tanah Air. Siapa sosok Kiai Asrori?
KARANGAN bunga duka cita dari sejumlah tokoh penting masih berdiri kokoh di pintu gerbang Pondok Assalafi Al Fithrah di Jalan Kedinding Lor 99 Kota Surabaya. Ada karangan bunga dari Presiden SBY, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bahrul Alam, Kapolwiltabes Surabaya Kombespol Ronny F Sompie, dan Wali Kota Surabaya Bambang DH.
Para petakziah pun terus berdatangan. Mereka langsung ziarah ke makam tokoh dan mursyid jamaah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, KH Asrori Al Ishaqi, di depan masjid pondok.
Gundukan bekas tanah galian makam masih terlihat basah. Hamparan karpet warna hijau dan sejumlah sekatan kayu lapis bercat putih yang diposisikan sekitar 5 meter dari makam berdiri. Kayu ini untuk membatasi barisan depan peziarah dengan lokasi makam Kiai Asrori.
Para pengurus atau pimpinan pondok pun masih larut dalam suasana duka. ”Masih suasana duka, tak ada wawancara sampai tujuh hari sepeninggal Pak Kiai (Asrori),” ujar seorang santri usai shalat zuhur, kepada Suara Merdeka.
Berdasar referensi tertulis, Kiai Asrori adalah anak KH Utsman Al Ishaqi, sahabat KH Mustain Romli dari Pondok Darul Ulum Rejoso, Jombang. Nama belakang Ishaqi pada Kiai Utsman dinisbahkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman dinilai masih ada jalinan keturunan dengan Sunan Giri.
Sebagai Mursyid
Kiai Asrori adalah anak Kiai Utsman dan memiliki 13 saudara yang kini tinggal 9 orang. Kiai Utsman meninggal pada Januari 1984 pada usia 77 tahun. Kiai Utsman adalah santri KH Ramli Tamim, ayah KH Mustain Ramli.
Ketika Kiai Ramli Tamim masih hidup, ada 3 kiai yang dibaiat sebagai mursyid (pimpinan tarekat) Qodiriyah Wa Naqsabandiyah, yakni KH Utsman Al Ishaqi Kedinding Lor Surabaya, KH Makki Karangkates Kediri, dan KH Bahri Mojosari Mokojerto.
Berdasar buku ”Politik Tarekat” yang ditulis Mahmud Sujuthi (2001), sepeninggal Kiai Utsman, estafet kepemimpinan lembaga tarekat dipimpin Kiai Asrori, saat usia baru 30 tahun.
Di bawah kepemimpinan Kiai Asrori, Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah berkembang dan memperoleh apresiasi dari banyak umat. Ada kegiatan yang disebut khususiyah yang dihelat tarekat ini yang dihadiri rata-rata 4.000 orang di Pondok Al Fithrah.
“Yang menarik pengamal tarekat pimpinan Kiai Asrori adalah sebagian besar karyawan swasta, PNS, ilmuwan, dan tokoh penting pemerintahan. Di kalangan Tarekat Kedinding Lor yang berhak melakukan baiat kepada anggota baru adalah Kiai Asrori saja selaku mursyid, tak ada khalifah atau badal atau wakil mursyid sebagaimana tarekat Cukir Jombang dan Rejoso Jombang,” tulis Mahmud Sujuthi.
Sebagaimana anak kiai besar dan dihormati karena ilmunya yang tinggi, Kiai Asrori dalam menimba ilmu dan pengetahuan agama mengembara dari satu pondok ke pondok lainnya. Tapi, tempo mondoknya tergolong singkat. Kabarnya, Kiai Asrori pernah nyantri di Pondok Darul Ulum Rejoso Jombang hanya setahun. Demikian pula di Pondok Pare Kediri dan Pondok Bendo juga setahun.
Anak Macan
Yang menarik, ketika mondok di Pondok Rejoso Jombang, Kiai Asrori tak aktif mengikuti ngaji. Namun itu tak membuat risau KH Mustain Ramli, pimpinan Pondok Rejoso. “Biarkan saja, anak macan kan akhirnya jadi macan juga,” kata Kiai Mustain Ramli.
Karena kepintarannya yang luar biasa, terutama di bidang ilmu agama, di kalangan kiai dan santri pondok, Kiai Asrori dinilai memiliki ilmu laduni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Dia memperoleh ilmu itu tanpa melalui proses belajar-mengajar yang wajar sebagaimana dijalani santri pondok pada umumnya.
Selama menimba ilmu di Pondok Rejoso itu, Kiai Asrori mampu membaca dan mengajarkan kitab Ihya’ Ulum Al-Din karya Imam Al Ghazali dengan sangat baik. “Kalau saya bukan bapaknya, saya mau kok ngaji kepadanya,” ujar KH Utsman Al Ishaqi sebagaimana dikutip dari buku “Politik Tarekat” karya Dr Mahmud Sujuthi.
Karena kepintarannya itu, tak ada keraguan sedikit pun pada Kiai Utsman untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan tarekat yang dipimpinnya kepada anaknya, Kiai Asrori. Kendati Kiai Asrori bukan anak laki-laki tertua dari 9 bersaudara.
“Kiai Asrori ulama tarekat yang luar biasa dan istiqomah menjalankan perannya itu dengan baik. Karena itu, semua fatwa dan pandangannya diikuti umatnya. NU sangat kehilangan sepeninggal beliau,” kata Rois Syuriah NU Jatim, KH Miftakhul Akhyar.
Tarekat Qodiriyyah Wan Naqsabandiyah Kedinding Lor Surabaya di bawah pimpinan Kiai Asrori termasuk 3 lembaga tarekat besar di lingkungan NU. Dua lembaga tarekat lain adalah Tarekat Rejoso Jombang di bawah pimpinan KH Mustain Ramli dan Tarekat Cukir Jombang dengan pimpinan KH Adlan Ali.
Hakikatnya, ketiga tarekat itu awalnya bersumber dari satu wadah, yakni Tarekat Rejoso Jombang. Setelah KH Mustain Ramli merapat ke Golkar pascapemilu 1971 dan mendukung partai itu pada pemilu 1977, terjadi pembelahan tarekat di kalangan NU.
Yang berdiri berseberangan secara politik dengan Tarekat Rejoso adalah Tarekat Cukir di bawah pimpinan KH Adlan Ali. Tarekat Cukir ketika itu dekat dengan kalangan PPP dan Pondok Tebuireng Jombang di bawah pimpinan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud).
Tarekat Kedinding Lor di bawah KH Utsman Al Ishaqi memisahkan diri dari Tarekat Rejoso di bawah mursyid KH Mustain Ramli bukan karena pertimbangan politik yakni masuknya Kiai Mustain ke Golkar. Tapi, karena Kiai Mustain menghapus KH Utsman Al Ishaqi dari silsilah Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah Rejoso.
Padahal, yang mengangkat Kiai Mustain sebagai mursyid adalah Kiai Utsman atas permintaan Nyi Djah, bukan langsung dari ayahnya KH Ramli Tamim.
Pada era 1970-an, komunitas tarekat yang identik dengan kalangan NU itu menjadi sasaran penguasa Orde Baru untuk dirangkul. Soeharto melalui Golkar berhasil merebut dan mengambil hati KH Mustain Ramli yang memimpin Tarekat Rejoso. Padahal, saat itu sebagian besar kiai, tokoh, dan warga NU merapat ke PPP. Sebab, partai ini dinilai sebagai satu-satunya partai yang mewadahi dan memperjuangkan aspirasi umat Islam dan berasas Islam pula.
Karena itu, kiai tarekat lain yang lebih dekat ke PPP mendirikan Tarekat Cukir dengan tokoh utama KH Adlan Ali dan didukung Pondok Tebuireng. Dalam perspektif politik, Tarekat Rejoso dan Cukir berada di posisi berseberangan. Di sisi lain, Tarekat Kedinding Lor berada di titik netral. Tak terikat dengan partai mana pun maupun menyandarkan diri di antara Tarekat Rejoso dan Cukir.
Dari sisi perilaku politik, Tarekat Rejoso bersifat adaptif kompromis, Tarekat Cukir bersifat antagonis, dan Tarekat Kedinding Lor bersifat kooperatif. Selain itu, dari sudut pola pemikiran, antara Tarekat Rejoso dan Kedinding sama-sama bersifat rasionalistik, realistik, dan substantivistik. Sedang Tarekat Cukir bersifat skripturalistik, idealistik, dan formalistik.
Cuma dari sisi afiliasi politik, antara ketiga tarekat itu berbeda-beda. Tarekat Rejoso merapat ke Golkar, Tarekat Cukir bersandar ke PPP, dan Tarekat Kedinding Lor berposisi netral. Karena sifat netralnya secara politik, Tarekat Kedinding Lor di bawah pimpinan Kiai Asrori memiliki hubungan dan jaringan yang luar biasa banyak dengan berbagai kalangan di tingkat nasional.
Kiai Asrori memiliki akses dengan pusat-pusat kekuasaan di Jakarta. Ketika Ibu Tien Soeharto wafat dan diperingati 100 hari kematiannya, Kiai Asrori yang memimpin tahlil akbar di Ndalem Kalitan Solo dan makam Astana Giribangun Karanganyar, Jateng.
Tapi, Tarekat Kedinding Lor tak pernah mengarahkan jamaahnya untuk memilih parpol tertentu pada pemilu, termasuk pada pileg dan pilpres 2009 lalu. Pondok Al Fithrah, selain dikenal sebagai mursyid Tarekat Kedinding Lor Surabaya, Kiai Asrori mewarisi peran ayahnya sebagai pengasuh ponpes. Pondok Assalafi Al Fithrah yang didirikan tahun 1985 bersama 3 santri Pondok Darul Ubudiyah Jatipurwo Surabaya, yakni Zainal Arief, Wahdi Alawy, dan Khoiruddin sekarang mengalami perkembangan pesat.
Pondok Al Fithrah kini memiliki 2.600 santri dan santriwati. Dari jumlah itu, 1.209 santri bersifat menetap dan yang tak menetap sebanyak 1.391 santri. Pondok yang berdiri di atas lahan 4 hektare lebih itu, memiliki lembaga pendidikan di semua tingkatan, dari tingkat TK, MI, MTS, MA, dan STIU Al Fithrah.
Ada sejumlah kegiatan unggulan Pondok Al Fithrah dibanding pondok salaf lainnya di lingkungan NU. Di antaranya, jamaah maktubah, aura aurod, dan qiroatul Alquran. (Ainurrohim-77)
sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/20/77416/Anak.Macan.Akhirnya.Jadi.Macan.Juga
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
====== Kenangan KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi, Pimpin Doa dengan Infus di Tangan ======
RIBUAN orang menangis histeris. Ini terjadi ketika jenazah Hadratus Syekh KH Ahmad Asrori Al-Ishaqi dimasukkan ke liang lahat, kemarin. Kiai dengan wajah sejuk itu dikenal sebagai imam dan guru Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Al-Usmaniyah yang sedang digandrungi jamaah. Kehadirannya dalam setiap majelis dzikir selalu diharapkan. Doa yang dipanjatkan selalu ditunggu jutaan jamaah Tarekat di seluruh Indonesia, bahkan sampai Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.
Kiai Asrori -demikian ia biasa dipanggil--kemarin dini hari menghembuskan nafas terakhir. Penyakit kanker yang menghinggapi tubuhnya sejak tiga tahun lalu menyebabkan ia harus menyerah ke Sang Khalik. Jenazah pimpinan Pondok Pesantren Al Fitrah, Kedinding, Surabaya ini dimakamkan di kompleks pondoknya sekitar pukul 11.00 WIB. Meski sudah sakit lama, namun meninggalkan kiai kharismatis ini tetap saja mengagetkan para santrinya.
Saya mengenal pimpinan tertinggi tarekat ini sudah sejak lama. Bahkan, namanya selalu disebut-sebut ayah saya yang memang juga penganut tarekat ini. Namun, baru mengenal secara pribadi setelah diperkenalkan KH Imam Sughrowadi saat berlangsung manaqib dan zikir kubro di pondok pesantrennya di Blitar, tahun 2005. Setelah itu, beberapa kali saya mengikuti pertemuan khusus dengan para santri setiap habis salat Jumat di kediamannya.
Mengapa para jamaah begitu kehilangan kiai kharismatis ini? Selain ia adalah imam tertinggi thariqah yang memiliki jamaah terbesar di Indonesia ini, Kiai Asrori juga sangat mencintai jamaahnya. Ini ditunjukkan ketika berlangsung dikir akbar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke 714, tiga tahun lalu. Seperti diketahui, sejak tahun 2006, di Balaikota Surabaya selalu digelar zikir akbar yang dipimpin Kiai Asrori. Ini menjadi tradisi puncak kegiatan hari jadi sejak tahun itu.
Nah, memasuki tahun kedua, Kiai Asrori mulai menderita sakit kanker darah. Beberapa hari menjelang acara berlangsung, ia harus masuk rumah sakit. Maka, zikir akbar di balai kota itu pun terancam berlangsung tanpa keberadaan Kiai Asrori. Sebagai antisipasi, panitia menyiapkan jalur khusus kursi roda menuju panggung utama untuknya. Baru pagi hari menjelang acara berlangsung, didapat kepastian Kiai akan hadir di majelis zikir tersebut.
Seorang santri dekatnya bilang, ketika itu Kiai memutuskan untuk hadir karena kasihan sama jamaah. "Mereka itu datang dari berbagai kota ingin melihat wajah saya, ingin mengamini doa saya. Karena itu, meski bagaimana pun saya harus datang agar mereka tidak kecewa,'' katanya seperti ditirukan santri tersebut. Akhirnya, Kiai Asrori hadir di majelis itu dengan memakai kursi roda dan infus di tangan.
Begitu selesai berdoa, kiai pamit pulang. "Mohon maaf, saya sudah tidak kuat. Saya mohon pamit dulu untuk beristirahat,'' katanya dengan berbisik kepada saya. Kehadiran kiai di majelis zikir dalam keadaan sakit itu membuat puluhan ribu jamaah yang hadir menangis. Saat itu, saya melihat Menkominfo Prof Dr Mohammad Nuh yang hadir dan sejumlah habaib serta para santri terdekatnya menyeka air mata. Belakangan, Kiai Asrori juga seirng menghadiri acara zikir meski masih dalam keadaan sakit.
Dalam haul Akbar terakhir di Ponpes Alfitrah Kedinding bulan lalu, Kiai Asrori juga memimpin sendiri doanya. Hanya saja, tabung alat bantu pernafasan selalu tersedia di sampingnya. Tampaknya, haul bulan lalu itu merupakan haul pamitan beliau kepada para jamaahnya. Setelah itu, sakit beliau semakin parah. Beberapa jam menjelang subuh kemarin, kanker darah telah mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya dalam usia 52 tahun.
Acara haul tahunan ini dihadiri ratusan ribu jamaah dari berbagai kota dan luar negeri. Para jamaah biasanya ditampung di rumah-rumah di sekitar pondok. Untuk makan para jamaah, juga disiapkan ratusan ribu bungkus nasi. Di antaranya juga merupakan sumbangan para warga di sekitar pondok. Pada haul terakhir kemarin, hadir ulama besar dari Makkah, Habib Umar Al-Jaelani.
Dia adalah cucu Syekh Abdul Qadir Jaelani, ulama yang menjadi panutan para penganut tarekat. Dalam setiap haul, kisah hidup ulama yang dipercaya sebagai wali Allah ini dibacakan. Kisah itu dikenal dengan kitab Manaqib. Manaqib ini dibaca bersamaan dengan salawat dan kisah-kisah Nabi Muhammad.
Kiai Asrori lahir di Surabaya, 17 Agustus 1957. Ini berarti meninggal sehari setelah ulang tahunnya ke 52 kemarin. Dia adalah putra kiai besar di wilayah Surabaya utara, KH Usman Al-Ishaqi. Ayahnya juga seorang mursyid tarekat. Setelah menikahi Ibu Nyai Muthia Setiyawati, Kiai Asrori dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri. Putra terbesarnya kini masih studi di perguruan tinggi.
Kiai Asrori meninggalkan kita semua dalam usia yang relatif masih muda. Namun, ia telah berhasil menjadi panutan dari jutaan jamaah tarekat di berbagai nusantara dan negara-negara lainnya. Akankah lahir kiai pengganti beliau yang bisa menjadi penutan kita semua?
Sungguh Kiai, kami pasti akan rindu dengan fatwa-fatwa dan wajah sejukmu.
*) Arif Afandi , wakil wali kota Surabaya yang juga santri Al-fitrah
Jawa Pos, Rabu, 19 Agustus 2009
| Komentar |
|

Pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxx ya mas saif...
menjadi anggota dewan kebanyakan atas...
Ya mas, seperti pemilu kemarin, saya ...
Adem ayem rasa jiwa ini bila membahas...
oke bgt sich fotonya