You Are

 

 

SAYA dan keluarga kembali kembali Haul Akbar yang diselenggarakan oleh Jama'ah Pengajian Al-Khidmah pimpinan Romo KH. Asrory Al-Ishaqi di depan Wisma Semen Gresik pada Minggu, 4 Januari 2009. Berbeda dengan setahun sebelumnya di mana saya mengikuti Haul Akbar yang sama dan tiba di lokasi sekitar jam 10 siang, pada haul ini saya datang agak pagi. Setelah membeli beberapa botol air mineral dan beberapa kertas, saya memilih tempat duduk yang agak nyaman, di bawah sebuah ATM (Automatic Teller Machine). Tak lama kemudian beberapa saudara menyusul.


Semenjak Sabtu 3 Januari 2009, jalur lalu lintas sudah dialihkan untuk keperluan penataan dekorasi dan panggung. Cukup dimaklumi karena dalam acara-acara besar seperti ini memerlukan ruang yang cukup luas dan mudah dijangkau. Jama’ah pun tidak hanya berasal dari dalam kota, melainkan tidak sedikit mereka yang datang semenjak hari sebelumnya dari luar kota. Saya sendiri datang malam sebelum acara digelar.

Jika dihitung dari bungkus makanan yang ada, seperti disampaikan oleh panitia, konon telah disediakan sebanyak 90.000 bungkus. Itu artinya sebanyak itulah kira-kira jama'ah yang hadir.

Rasa nikmat berdo’a dan berkumpul dengan lautan manusia yang rata-rata berbaju putih (kecuali para pedagang asongan di sekitarnya) sudah mulai muncul ketika memasuki pintu gerbang tempat istighotsah digelar. Ada rasa syahdu yang mendalam. Di antara jamaah sekitar tempat saya duduk terdengar beberapa orang menangis dalam do’anya. Saya sendiri belum sampai pada tahap untuk bisa menangis dalam berdo’a dan merasa fly dengan Tuhan. Dalam berdo’a, pikiran masih tergoda melihat pemandangan sosial yang menakjubkan ini.

Setelah melantunkan beberapa bait manaqib dan do’a serta shalawat nabi dan upacara sambutan serta pengajian dimulai, saya sekeluarga terpaksa pulang karena Rifka, putri terkecil perutnya sakit. Kami terpaksa tidak mengikuti upacara sambutan dari para tokoh yang diundang.
Tapi tidak mengapa, sebab sayup-sayup saya masih bisa mendengar para tokoh yang memberikan sambutan itu. Dan seperti biasanya, inti sambutan mereka kira-kira seputar puja-puji saja kepada jama’ah yang berjumlah jutaan ini. Sayup-sayup saya masih mendengar beberapa rektor perguruan tinggi (Unisma, UN Malang, UMM) yang memberikan sambutan berisi berbagai keheranan sosiologisnya, mengapa secara sosial ada manusia yang bisa berkumpul rapi dan teratur dan dalam disiplin yang tinggi, tanpa adanya pemaksaan dari siapapun. Mereka datang berniat untuk berkumpul dan berdo’a.

Yang cukup saya sesalkan adalah tidak mengikuti ceramah pengajian yang konon disampaikan oleh Ustadz Marzuki dari Malang. Mendengar beliau yang ceramah saya selalu terkesan karena menarik, aktual, simpel dan mengena.

Dalam diskusi malam dengan keluarga, barulah saya tahu sedikit manfaat dari itu semua. Hmmm, apalah daya manusia ini. Sebagus dan sehebat apapun ibadahnya kepada Tuhan, nilainya masih tidak ada artinya dengan kebaikan Tuhan yang diberikan kepadanya. Bila ada orang masuk sorga, hampir dipastikan itu semua bukan karena hasil ibadahnya, melainkan karena Ridla dan Rahmat Tuhan.

Dzikir adalah sebaik-baik perbuatan, dan berkumpul bersama adalah sebaik-baik dakwah. Kita bisa berdzikir dengan cara apa dan di mana saja, tapi untuk berkumpul, kita harus keluar dari rumah dan bergabung. Saya kira itu benar.

Posting pertama saya di sini sampai saat ini mendapat perhatian paling banyak dibandingkan dengan artikel-artikel lainnya. Hanya karena sempat mengganti database beberapa komen yang dilontarkan hilang. Mohon maaf.

Komentar
Tambah Baru
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."