You Are

 


 

Paduka Tuan Ketua yang mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menepati permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenamya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: "Philoso- fische grondslag" dari pada Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah pondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk diatasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada Tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".

Selanjutnya...

“…Tetapi ada contoh lain yang jauh lebih menakutkan daripada perusakan alam. Dengan arsenal persenjataan modernnya manusia kini mampu menghancurkan bumi dan seisinya berkali-kali! … Maka manufactured uncertainty ini akhirnya mengarah kepada high consequence risk. Memang dalam hidup ini manusia harus mengambil banyak pilihan yang mengandung resiko. Tetapi, resiko yang harus diambil oleh manusia pada abad akhir abad kedua puluh ini adalah jenis resiko yang mempunyai konsekuen yang amat jauh… Dengan sebuah metafor juggernaut (truk besar) yang meluncur tanpa kendali… Tidak ada manusia satupun yang dapat meloloskan diri dari situasi. Lebih lagi, tidak ada satu manusia pun yang dapat menghentikan juggernaut ini” (Giddens, 1999: x)

Selanjutnya...