| 03 Juli 2008
Saya ingin sekali menampilkan tulisan GM (Gunawan Mohamad) tentang topik satu ini.
SEORANG laki-laki setengah baya dari sebuah kota pedalaman Chile pernah membacakan sepotong fragmen sajak Pablo Neruda ketika kami makan malam:
a puro pie
deshizo
las distancias
y no llevaba espada ni armadura
sino redes al hombro...
(dengan kaki telanjang
ia sudahi
beribu jarak,
tak ia bawa pedang atau senapang
cuma jala pada pundak
a puro pie
deshizo
las distancias
y no llevaba espada ni armadura
sino redes al hombro...
(dengan kaki telanjang
ia sudahi
beribu jarak,
tak ia bawa pedang atau senapang
cuma jala pada pundak
Sajak itu berbicara tentang el pueblo, "rakyat". Kami makan malam di sebuah kedai kopi di sekitar Harvard Square, Cambridge, Massachussets, di awal musim semi tahun 1989. Laki-laki di depan saya itu seorang padri dan ahli sosiologi yang sedang berkunjung ke Universitas Harvard. Saya tak bisa berbahasa Spanyol, dan bagi saya sajak yang dikutipnya itu bukan sajak terbagus dari Neruda. Namun saya senang dengan kutipan itu, sebab ia sebenarnya ilustrasi yang menarik bagi tema percakapan kami malam itu: apa yang "salah" dan juga apa yang "penting" dalam pemikiran "theologi pembebasan".
Di tahun itu saya mengambil kuliah "theologi pembebasan" yang diberikan oleh Harvey Cox, penulis The Secular City yang terkenal itu, di Harvard Divinity School. Di kelas itu ada orang dari Afrika Selatan, ada banyak orang hitam dari kota-kota Amerika, beberapa orang Latino dan sejumlah orang Korea. Sebagian mahasiswa Katolik, sebagian Protestan, dan banyak yang tidak beragama.
Yang Muslim hanya saya dan seorang muda dari Oman. Di akhir semester, makalah orang Oman ini berbicara tentang Islam: ia menunjukkan bagaimana bagian yang cukup besar dari Qur'an berulang kali mengetengahkan perkara orang-orang miskin, suatu pesan yang oleh mereka yang berkuasa di Timur Tengah ditenggelamkan dengan kebisingan benda-benda impor dan dengan suara angker pemuka agama yang hanya mengukuhkan kebekuan pikiran dan kekuasaan oligarki. Makalah orang Oman itu disambut hangat, karena nampaknya apa yang dirasakan orang Muslim miskin di sekitar jazirah Arab tidak jauh berbeda dari apa yang dirasakan orang Kristen miskin di benua Amerika.
Makalah saya (tidak disambut hangat) mempersoalkan beberapa pokok dalam argumentasi "theologi pembebasan" dalam beberapa teorisinya di Amerika Latin, seperti Gustavo Guttierez, Jose Miguez Bonino dan Juan Luis Secundo.
Kemiskinan, dan terutama ketidakadilan yang mencekik dalam konteks kemiskinan itu, memang persoalan yang bagi Dunia Ketiga merundung siapa saja yang peka dan prihatin. Dan bagi sebagian para rohaniawan Katolik di Amerika Latin, keadaan itu menorehkan rasa pedih yang lebih, karena sementara umat mereka tertindas, Gereja mereka berdiri sebagai bagian yang mengiyakan ketidakadilan itu. Mereka memprotes, mereka ingin menegaskan lagi bahwa Kristus adalah Kristus yang memberkati mereka yang miskin dan mengecam yang kaya, dan mereka pun mengerahkan argumentasi untuk memihak kepada yang dianiaya secara lebih tegas.
Pada taraf ini, Marxisme, terutama di Amerika Latin, mempunyai daya pikatnya sendiri. Marxisme di sini tidak meruap dari buku, tetapi dari ilham: ada seorang pembebas yang mau mengorbankan dirinya sampai mati untuk mereka yang tertindas, dan orang itu bernama "Che" Guevarra.
Tidak sulit untuk mempertemukan inspirasi dari "Che" yang tubuhnya diakhiri dengan lobang-lobang peluru setelah sebuah gerilya panjang, dengan inspirasi dari Yesus yang disalibkan. Tetapi ketika soalnya sudah sampai ke pada perumusan teori, dan bukan praktek, ada hal-hal yang menyebabkan "theologi pembebasan" dari Amerika Latin ini terpancing masuk ke dalam persoalan dasar: bisakah agenda Marxis dipakai untuk pembebasan? Dan agenda Marxis yang mana?
Itulah yang sebenarnya saya persoalkan. Tiga hal yang bagi saya kurang tepat diberi jawab oleh kaum pemikir "theologi pembebasan" Amerika Latin.
Pertama, rumusan bahwa proletariat merupakan wakil paling tepat bagi si miskin -- satu hal yang disebut dalam hasil pertemuan "Kaum Kristiani untuk Sosialisme" di Santiago di tahun 1972. Bagi saya, pandangan yang juga dikemukakan oleh Guttierez ini hanyalah cangkokan dari analisa Marxis yang "Eropa-sentris", sebab sesungguhnya di Dunia Ketiga kaum buruh hanyalah kelas yang sangat terbatas. Kaum tani melarat justru merupakan sebuah lautan besar. Ini juga agaknya yang menyebabkan salah satu fondasi dari Marxisme-Leninisme, (termasuk yang dijabarkan oleh teori Mao), lemah. Yakni: perihal kepemimpinan kelas buruh dalam Revolusi, yang diejawantahkan dalam diri Partai Komunis.
Kedua, pandangan sebagian pemikir "theologi pembebasan" terhadap agama yang dijalani oleh rakyat sehari-hari. Jose Miguez Bonino, misalnya, mengutip dari pertemuan Semana Internacional de Catequesis di Medellin di tahun 1968, yang memandang kehidupan beragama rakyat sehari-hari sebagai perilaku yang negatif: "mempertahankan, dan sebagiannya dirangsang oleh, struktur yang dominan, antaranya oleh Gereja sendiri". Takhayul, tapi lebih dari itu, sikap menyerah kepada penindasan, telah jadi bagian dari perilaku itu -- semacam apa yang oleh Marx disebut sebagai "kesadaran palsu".
Yang mungkin belum dilihat oleh pandangan ini ialah bahwa sikap yang nampaknya pasif itu jangan-jangan mengandung ekspresi perlawanan terselubung terhadap penindasan struktural, suatu gejala dinampakkan oleh penelitian James Scott (The Weapons of the Weak) misalnya di kalangan petani miskin Malaysia (juga, oleh orang lain, di pedalaman Spanyol Selatan dan di kalangan buruh tambang di Appalachia).
Sehubungan dengan itu adalah hal ketiga: bagaimana transformasi dari kehidupan beragama sehari-hari yang nampaknya menyerah itu menjadi suatu kesadaran baru untuk perlawanan. Juan Luis Secundo menggagas dibentuknya "komunitas basis", sesuatu yang didasarkannya kepada perlunya lapisan garis depan yang lebih "sadar". Ada persamaan antara "komunitas basis" ini dengan kaum "revolusioner profesional" Leninis. Namun dengan demikian tidakkah akhirnya yang akan terjadi adalah suatu kekuasaan kelas baru di atas rakyat miskin sehari-hari, yang akan memimpin transformasi itu? Maka, di manakah nanti pembebasan itu?
"Kita memuja rakyat", kata padri Chile itu, setelah membaca baris-baris el Pueblo dari Neruda, "dan justru sebab itu kita sering tak memahaminya". Dan kemudian ia menambahkan: "Tapi inti persoalannya adalah kemiskinan, atau lebih tepat lagi ketidakadilan. Dan seperti terlihat dalam sejarah dan ekspresi agama manapun, inti itu tak bisa dilepaskan dari soal iman --bagaimana kita berpegang kepada harapan tentang sebuah sumber terakhir yang benar-benar adil".
Saya ingat kata-kata itu, karena kemudian kami berbicara tentang paham theologi pembebasan yang lain: apa yang misalnya ditawarkan oleh Aloysius Pieris, seorang padri Jesuit dari Sri Lanka, sebagai "sebuah theologi pembebasan Asia".
Hasil saya mengikuti kuliah Harvey Cox di Harvard tahun itu ialah bahwa saya jadi tahu bahwa saya tak bisa lagi sembarangan bicara tentang "theologi pembebasan". Sebab ternyata banyak variannya. Dan seperti yang dirumuskan oleh Pieris, tidak semuanya bersepakat dengan apa yang dikemukakan oleh para padri dari Amerika Latin.
Bahkan Pieris, meskipun bisa memahami bila para pemikir theologi di Asia di akhir tahun 1970-an terpengaruh oleh angin kiri yang sedang bertiup, tetap menyindir mereka sebagai "menyanyikan lagu pembebasan yang tak cocok dengan irama non-Latin budaya mereka sendiri". Pertanyaan Pieris bagi theologi pembebasan Amerika Latin: tidakkah mereka masih terlalu "Eropa-sentris" dan "terlampau Kristen"?
Dalam banyak tulisannya, Pieris mengembangkan lebih jauh pandangan Karl Rahner yang bersikap terbuka dalam menghadapi agama-agama lain. Pandangan ini, yang konon telah mengilhami Konsili Vatikan Kedua, mengukuhkan pengakuan bahwa penyelamatan manusia juga bisa dilakukan oleh agama bukan-Kristen.
Pieris berpendapat, bahwa Asia akan selamanya merupakan "sebuah benua non-Kristen". Asia adalah benua dengan begitu banyak orang miskin dengan begitu ragam agama yang berakar kuat. Ini justru membuka kesempatan yang amat besar bagi kehadiran Kristiani di Asia untuk "secara rendah hati berpartisipasi dalam pengalaman pembebasan yang non-Kristiani". Ketakutan akan hilangnya identitas Kristiani, bagi Pieris, bisa menyebabkan orang Kristen bersandar kepada yang kuasa dan yang kaya, yang dalam Injil disebut sebagai "Mamon". Maka "di antara orang-orang bukan Kristenlah gereja terpanggil untuk menghilangkan dirinya sendiri dalam partisipasi total". Partisipasi itu tentu saja dalam usaha bersama dengan yang miskin, yang disisihkan, yang dianiaya, untuk membebaskan diri.
Saya ingat semua ini kembali ketika saya mendengar cerita Romo Sandyawan S.J. Ia dikenal sebagai seorang rohaniawan yang dekat dengan anak-anak gelandangan di sudut-sudut kumuh kota. Kini ia dikenal sebagai seorang tempat tiga orang anggota teras PRD datang, untuk berlindung, karena mereka terancam oleh tindakan kekerasan yang mungkin terjadi pada diri mereka.
Saya kenal pertama kali Romo Sandyawan setahun lalu. Ketika itu ia dengan senang hati menjadi saksi yang meringankan buat Danang Kukuh Wardoyo, anak berumur 18 tahun, petugas kantor Aliansi Jurnalis Independen yang dipenjarakan tanpa berbuat kejahatan itu.
Ketika saya melihatnya pertama kali, saya tak menyangka ia padri yang pengabdiannya telah banyak saya dengar itu. Tubuh Sandyawan kurus, rambutnya gondrong tak terawat, matanya agak cacat dan bicaranya lirih, kemalu-maluan, tapi sabar. Kesediaannya yang ikhlas untuk menolong Danang menyebabkan saya merasa dekat. Ia tak mengenal pribadi Danang, memang. Ia hanya tahu bahwa Danang terancam oleh hukuman penjara yang tak adil. Itu sudah cukup baginya untuk bersedia menjadi saksi, karena ia tahu tuduhan jaksa tidak benar.
Saya kira itu juga dorongan pertama dan utamanya ketika ia menolong Budiman Sudjatmiko dan kedua anak muda lain dari PRD yng datang kepadanya untuk diberi tempat berlindung sementara. Jika ada motif yang bisa dikaitkan dengan "theologi pembebasan" dalam tindakan itu, maka itu adalah dasar theologi pembebasan menurut Aloysius Pieris S.J.: keterbukaan kita buat melihat manusia pertama-tama dari kemungkinannya untuk teraniaya.
"Kemanusiaan yang baru tidak akan dicapai oleh kekuasaan ataupun prestise, melainkan oleh ketidak-berdayaan, kegagalan dan keterhinaan", tulis Pieris. Saya teringat akan sebuah surah yang digemari oleh guru saya di madrasah kami yang miskin di Jawa Tengah hampir setengah abad yang lalu: Surat Abasa dalam Qur'an. Di sana bahkan Rasulullah sendiri dipersalahkan Tuhan, karena mendahulukan orang-orang yang telah merasa cukup-diri, dan mengabaikan seorang orang yang papa dan buta, tak berdaya.
Di tahun itu saya mengambil kuliah "theologi pembebasan" yang diberikan oleh Harvey Cox, penulis The Secular City yang terkenal itu, di Harvard Divinity School. Di kelas itu ada orang dari Afrika Selatan, ada banyak orang hitam dari kota-kota Amerika, beberapa orang Latino dan sejumlah orang Korea. Sebagian mahasiswa Katolik, sebagian Protestan, dan banyak yang tidak beragama.
Yang Muslim hanya saya dan seorang muda dari Oman. Di akhir semester, makalah orang Oman ini berbicara tentang Islam: ia menunjukkan bagaimana bagian yang cukup besar dari Qur'an berulang kali mengetengahkan perkara orang-orang miskin, suatu pesan yang oleh mereka yang berkuasa di Timur Tengah ditenggelamkan dengan kebisingan benda-benda impor dan dengan suara angker pemuka agama yang hanya mengukuhkan kebekuan pikiran dan kekuasaan oligarki. Makalah orang Oman itu disambut hangat, karena nampaknya apa yang dirasakan orang Muslim miskin di sekitar jazirah Arab tidak jauh berbeda dari apa yang dirasakan orang Kristen miskin di benua Amerika.
Makalah saya (tidak disambut hangat) mempersoalkan beberapa pokok dalam argumentasi "theologi pembebasan" dalam beberapa teorisinya di Amerika Latin, seperti Gustavo Guttierez, Jose Miguez Bonino dan Juan Luis Secundo.
Kemiskinan, dan terutama ketidakadilan yang mencekik dalam konteks kemiskinan itu, memang persoalan yang bagi Dunia Ketiga merundung siapa saja yang peka dan prihatin. Dan bagi sebagian para rohaniawan Katolik di Amerika Latin, keadaan itu menorehkan rasa pedih yang lebih, karena sementara umat mereka tertindas, Gereja mereka berdiri sebagai bagian yang mengiyakan ketidakadilan itu. Mereka memprotes, mereka ingin menegaskan lagi bahwa Kristus adalah Kristus yang memberkati mereka yang miskin dan mengecam yang kaya, dan mereka pun mengerahkan argumentasi untuk memihak kepada yang dianiaya secara lebih tegas.
Pada taraf ini, Marxisme, terutama di Amerika Latin, mempunyai daya pikatnya sendiri. Marxisme di sini tidak meruap dari buku, tetapi dari ilham: ada seorang pembebas yang mau mengorbankan dirinya sampai mati untuk mereka yang tertindas, dan orang itu bernama "Che" Guevarra.
Tidak sulit untuk mempertemukan inspirasi dari "Che" yang tubuhnya diakhiri dengan lobang-lobang peluru setelah sebuah gerilya panjang, dengan inspirasi dari Yesus yang disalibkan. Tetapi ketika soalnya sudah sampai ke pada perumusan teori, dan bukan praktek, ada hal-hal yang menyebabkan "theologi pembebasan" dari Amerika Latin ini terpancing masuk ke dalam persoalan dasar: bisakah agenda Marxis dipakai untuk pembebasan? Dan agenda Marxis yang mana?
Itulah yang sebenarnya saya persoalkan. Tiga hal yang bagi saya kurang tepat diberi jawab oleh kaum pemikir "theologi pembebasan" Amerika Latin.
Pertama, rumusan bahwa proletariat merupakan wakil paling tepat bagi si miskin -- satu hal yang disebut dalam hasil pertemuan "Kaum Kristiani untuk Sosialisme" di Santiago di tahun 1972. Bagi saya, pandangan yang juga dikemukakan oleh Guttierez ini hanyalah cangkokan dari analisa Marxis yang "Eropa-sentris", sebab sesungguhnya di Dunia Ketiga kaum buruh hanyalah kelas yang sangat terbatas. Kaum tani melarat justru merupakan sebuah lautan besar. Ini juga agaknya yang menyebabkan salah satu fondasi dari Marxisme-Leninisme, (termasuk yang dijabarkan oleh teori Mao), lemah. Yakni: perihal kepemimpinan kelas buruh dalam Revolusi, yang diejawantahkan dalam diri Partai Komunis.
Kedua, pandangan sebagian pemikir "theologi pembebasan" terhadap agama yang dijalani oleh rakyat sehari-hari. Jose Miguez Bonino, misalnya, mengutip dari pertemuan Semana Internacional de Catequesis di Medellin di tahun 1968, yang memandang kehidupan beragama rakyat sehari-hari sebagai perilaku yang negatif: "mempertahankan, dan sebagiannya dirangsang oleh, struktur yang dominan, antaranya oleh Gereja sendiri". Takhayul, tapi lebih dari itu, sikap menyerah kepada penindasan, telah jadi bagian dari perilaku itu -- semacam apa yang oleh Marx disebut sebagai "kesadaran palsu".
Yang mungkin belum dilihat oleh pandangan ini ialah bahwa sikap yang nampaknya pasif itu jangan-jangan mengandung ekspresi perlawanan terselubung terhadap penindasan struktural, suatu gejala dinampakkan oleh penelitian James Scott (The Weapons of the Weak) misalnya di kalangan petani miskin Malaysia (juga, oleh orang lain, di pedalaman Spanyol Selatan dan di kalangan buruh tambang di Appalachia).
Sehubungan dengan itu adalah hal ketiga: bagaimana transformasi dari kehidupan beragama sehari-hari yang nampaknya menyerah itu menjadi suatu kesadaran baru untuk perlawanan. Juan Luis Secundo menggagas dibentuknya "komunitas basis", sesuatu yang didasarkannya kepada perlunya lapisan garis depan yang lebih "sadar". Ada persamaan antara "komunitas basis" ini dengan kaum "revolusioner profesional" Leninis. Namun dengan demikian tidakkah akhirnya yang akan terjadi adalah suatu kekuasaan kelas baru di atas rakyat miskin sehari-hari, yang akan memimpin transformasi itu? Maka, di manakah nanti pembebasan itu?
"Kita memuja rakyat", kata padri Chile itu, setelah membaca baris-baris el Pueblo dari Neruda, "dan justru sebab itu kita sering tak memahaminya". Dan kemudian ia menambahkan: "Tapi inti persoalannya adalah kemiskinan, atau lebih tepat lagi ketidakadilan. Dan seperti terlihat dalam sejarah dan ekspresi agama manapun, inti itu tak bisa dilepaskan dari soal iman --bagaimana kita berpegang kepada harapan tentang sebuah sumber terakhir yang benar-benar adil".
Saya ingat kata-kata itu, karena kemudian kami berbicara tentang paham theologi pembebasan yang lain: apa yang misalnya ditawarkan oleh Aloysius Pieris, seorang padri Jesuit dari Sri Lanka, sebagai "sebuah theologi pembebasan Asia".
Hasil saya mengikuti kuliah Harvey Cox di Harvard tahun itu ialah bahwa saya jadi tahu bahwa saya tak bisa lagi sembarangan bicara tentang "theologi pembebasan". Sebab ternyata banyak variannya. Dan seperti yang dirumuskan oleh Pieris, tidak semuanya bersepakat dengan apa yang dikemukakan oleh para padri dari Amerika Latin.
Bahkan Pieris, meskipun bisa memahami bila para pemikir theologi di Asia di akhir tahun 1970-an terpengaruh oleh angin kiri yang sedang bertiup, tetap menyindir mereka sebagai "menyanyikan lagu pembebasan yang tak cocok dengan irama non-Latin budaya mereka sendiri". Pertanyaan Pieris bagi theologi pembebasan Amerika Latin: tidakkah mereka masih terlalu "Eropa-sentris" dan "terlampau Kristen"?
Dalam banyak tulisannya, Pieris mengembangkan lebih jauh pandangan Karl Rahner yang bersikap terbuka dalam menghadapi agama-agama lain. Pandangan ini, yang konon telah mengilhami Konsili Vatikan Kedua, mengukuhkan pengakuan bahwa penyelamatan manusia juga bisa dilakukan oleh agama bukan-Kristen.
Pieris berpendapat, bahwa Asia akan selamanya merupakan "sebuah benua non-Kristen". Asia adalah benua dengan begitu banyak orang miskin dengan begitu ragam agama yang berakar kuat. Ini justru membuka kesempatan yang amat besar bagi kehadiran Kristiani di Asia untuk "secara rendah hati berpartisipasi dalam pengalaman pembebasan yang non-Kristiani". Ketakutan akan hilangnya identitas Kristiani, bagi Pieris, bisa menyebabkan orang Kristen bersandar kepada yang kuasa dan yang kaya, yang dalam Injil disebut sebagai "Mamon". Maka "di antara orang-orang bukan Kristenlah gereja terpanggil untuk menghilangkan dirinya sendiri dalam partisipasi total". Partisipasi itu tentu saja dalam usaha bersama dengan yang miskin, yang disisihkan, yang dianiaya, untuk membebaskan diri.
Saya ingat semua ini kembali ketika saya mendengar cerita Romo Sandyawan S.J. Ia dikenal sebagai seorang rohaniawan yang dekat dengan anak-anak gelandangan di sudut-sudut kumuh kota. Kini ia dikenal sebagai seorang tempat tiga orang anggota teras PRD datang, untuk berlindung, karena mereka terancam oleh tindakan kekerasan yang mungkin terjadi pada diri mereka.
Saya kenal pertama kali Romo Sandyawan setahun lalu. Ketika itu ia dengan senang hati menjadi saksi yang meringankan buat Danang Kukuh Wardoyo, anak berumur 18 tahun, petugas kantor Aliansi Jurnalis Independen yang dipenjarakan tanpa berbuat kejahatan itu.
Ketika saya melihatnya pertama kali, saya tak menyangka ia padri yang pengabdiannya telah banyak saya dengar itu. Tubuh Sandyawan kurus, rambutnya gondrong tak terawat, matanya agak cacat dan bicaranya lirih, kemalu-maluan, tapi sabar. Kesediaannya yang ikhlas untuk menolong Danang menyebabkan saya merasa dekat. Ia tak mengenal pribadi Danang, memang. Ia hanya tahu bahwa Danang terancam oleh hukuman penjara yang tak adil. Itu sudah cukup baginya untuk bersedia menjadi saksi, karena ia tahu tuduhan jaksa tidak benar.
Saya kira itu juga dorongan pertama dan utamanya ketika ia menolong Budiman Sudjatmiko dan kedua anak muda lain dari PRD yng datang kepadanya untuk diberi tempat berlindung sementara. Jika ada motif yang bisa dikaitkan dengan "theologi pembebasan" dalam tindakan itu, maka itu adalah dasar theologi pembebasan menurut Aloysius Pieris S.J.: keterbukaan kita buat melihat manusia pertama-tama dari kemungkinannya untuk teraniaya.
"Kemanusiaan yang baru tidak akan dicapai oleh kekuasaan ataupun prestise, melainkan oleh ketidak-berdayaan, kegagalan dan keterhinaan", tulis Pieris. Saya teringat akan sebuah surah yang digemari oleh guru saya di madrasah kami yang miskin di Jawa Tengah hampir setengah abad yang lalu: Surat Abasa dalam Qur'an. Di sana bahkan Rasulullah sendiri dipersalahkan Tuhan, karena mendahulukan orang-orang yang telah merasa cukup-diri, dan mengabaikan seorang orang yang papa dan buta, tak berdaya.
| Komentar |
|
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha

Pertamaaaaaaaaaaaaaaaxxxx ya mas saif...
menjadi anggota dewan kebanyakan atas...
Ya mas, seperti pemilu kemarin, saya ...
Adem ayem rasa jiwa ini bila membahas...
oke bgt sich fotonya