Saya bukan termasuk orang yang lama mengenalnya, mungkin baru sepuluh lima belas tahun saja. Tidak pernah bertatap muka, menyentuh, bahkan berada dalam satu acara. Suatu ketika saya pernah mendatangi sebuah acara yang konon beliau akan datang sebagai pembicara, namun beliau tidak hadir. Suatu ketika, kalau tidak salah ingat, sayang memang pernah bermimpi tentangnya, tapi lupa tentang apa.
Praktis perjumpaan saya dengan beliau hanyalah berada di medan antara. Buku-buku yang saya baca, berita yang saya konsumsi, artikel-artikelnya, prisma pemikirannya, biografinya dan terutama kisah dari mulut ke mulut dari orang-orang yang mengetahuinya lebih baik.
Semasa mahasiswa, pada 1999 saya berada di sebuah kamar di depan komputer dan sangat serius mengerjakan sesuatu. Di depan kamar orang ramai menyimak perhelatan pemilihan presiden di gedung DPR/MPR. Saya tahu beliau mencalonkan menjadi salah satu kandidat, tapi saya “tidak yakin” akan keseriusannya. Yang sering diketahui, masa-masa itu yang bersangkutan begitu kerap mempermainkan jurus mabuk untuk menggoyang politik Indonesia. Begitu pula saat itu. Saya “tidak terlalu yakin”. Saya lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan saya.
Tetapi saya langsung melompat dari ruang kerja saya dan ikut bergabung bersorak ramai dengan kawan-kawan saya lainnya karena mendengar bahwa beliau secara sangat sangat sangat mengejutkan terpilih menjadi Presiden RI ke-4. Luar biasa!!! Dalam hati saya menangis, dan memang tak terasa air mata terurai.
Saya mungkin bukan termasuk gusdurian yang taat, tetapi mendengar kepergian beliau saya lagi-lagi hanya bisa meneteskan air mata. Saya merasakan betul apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Kehilangan seseorang yang membuat bangga mereka menjadi Indonesia.
Seorang jagoan tanpa tanding, yang memperjuangkan sesuatu yang benar daripada yang kuat. Pembela kaum minoritas paling handal, tolerans sejati, pahlawan segala umat manusia.
Di rumah Mbok saya di Jember, hingga kini, foto Gus Dur sebagai presiden sampai kini tak pernah diturunkan di ruang tamu. Saya sadar betul Mbok Mbok tahu kalau Presiden RI sudah ganti berkali-kali. Dan foto-foto mereka diletakkan di samping Gus Dur. Saya tidak tahu persis maksudnya.
Selamat jalan Gus, engkau selalu memberi inspirasi, khususnya kepada saya…
[...] Dur memang insipirasi zaman ini. Ia mencintai musik, mulai dari yang kelas tinggi sampai lagu rakyat. Ia gemar musik dangdut, [...]